“Ketika Anda mendalami semua kata yang digunakan untuk ibadah baik dalam PL dan PB, dan ketika Anda menggabungkan artinya, Anda menemukan bahwa ibadah melibatkan sikap (kagum, hormat, menghargai) dan tindakan (sujud, memuji, melayani). Ini adalah pengalaman subjektif dan aktivitas objektif. Ibadah bukanlah perasaan yang tak terekspresikan, juga bukan formalitas kosong. Ibadah sejati keseimbangan yang melibatkan pikiran, emosi, dan kehendak (the will). Ia itu harus dipikirkan dengan baik; ia itu harus menjangkau jauh ke dalam hati dan dimotivasi oleh kasih; dan itu harus membawa kita pada tindakan ketaatan untuk memuliakan Tuhan." ~Warren Wiersbe, dalam Real Worship: Playground, Battleground, or Holy Ground?
"Kemarin Allah telah menolong kita, sebab kalau tidak, kita tidak berada di sini. Seperti Nabi Samuel, kita dapat mendirikan mezbah peringatan tentang kesetiaan Allah. Samuel menamakan batu peringatan itu EBENHAEZAR -- sampai di sini Tuhan telah menolong kita. Dan seperti Abraham, kita dapat memandang ke depan dan mengetahui bahwa Allah akan terus menolong kita. Abraham menamakan batu peringatannya JEHOVAH JIREH -- Tuhan akan memerhatikan kita. Jadi, Anda dan saya tidak perlu menyusahkan diri tentang waktu yang lalu dan cemas tentang hari yang akan datang, sebab Allah adalah Penolong kita yang tak pernah gagal". - Warren W. Wiersbe, dalam "Kekuatan untuk Menghadapi Masa Sukar"
Comments
Post a Comment