Meskipun kehidupan modern bisa sangat sibuk dan menyulitkan, namun bahaya terbesar bukanlah ketidaknyamanan material atau waktu. Seseorang bisa melakukan pekerjaan fisik selama dua belas jam sehari, enam hari seminggu selama hidupnya dan tidak mengalami dampak buruknya. Bahkan, orang itu bisa lebih sehat karena semua itu. Akan tetapi, tekanannya mental -- seperti yang dialami dalam pekerjaan pada umumnya dan kita semua alami -- dampak negatif pada tubuh bisa sangat besar. Jadi, jangan mengabaikan bahaya fisik dari kesibukan, tetapi ingatlah ancaman terbesarnya bersifat rohani.
Ketika kita menjadi sangat sibuk, kita menempatkan jiwa kita dalam bahaya. Tantangannya bukan hanya sekadar membuat beberapa kebiasaan buruk hilang. Tantangannya adalah tidak membiarkan kehidupan rohani kita terabaikan. Bahaya yang ada sangat serius dan bisa bertambah serius. Dan, kita semua tidak berada dalam kondisi aman seperti yang dipikirkan.
Bahaya pertama adalah kesibukan bisa merusak sukacita kita. Ini adalah ancaman rohani. Ini adalah ancaman rohani yang sangat jelas.
Sebagai orang Kristen, kehidupan kita harus ditandai oleh sukacita (Filipi 4:4), berbuah sukacita (Galatia 5:22), dan dipenuhi dengan kepenuhan sukacita (Yohanes 15:11).
Ketika hidup kita menjadi sangat sibuk, kita semakin rentan terhadap kekhawatiran, sakit hati, merasa tidak sabar, dan lekas marah.
Kesibukan seperti dosa: matikan atau itu akan mematikan Anda. Kita umumnya jatuh dalam pola yang bisa ditebak. Kita mulai kewalahan oleh satu atau dua proyek besar. Kemudian, kita dihancurkan oleh kegiatan kita sehari-hari. Setelah itu, kita putus asa karena kita tidak lagi merasakan damai dan bersumpah untuk melakukan perubahan. Akan tetapi, dua minggu kemudian, hidup menjadi lebih baik dan kita melupakan sumpah kita itu sampai pola yang sama berulang kembali. Hal yang tidak kita sadari adalah ketika tidak ada sukacita, kita menarik orang sana-sini, dan hiperaktif seperti kucing. Ketika kesibukan mengincar sukacita, ia mengincar sukacita semua orang.
Bahaya kesibukan bisa menyembunyikan kebusukan dalam jiwa. Tempo hidup yang melelahkan secara fisik dan rohani bisa membuat kita menjadi sakit. Ini bukan lagi hal yang mengejutkan bagi Anda. Hal yang tidak kita ketahui adalah jadwal kita yang luar biasa sibuk ini sering menjadi tanda sakit itu sudah ada.
Meskipun kelihatannya tidak sehat kalau orang dewasa bergumul dengan masalah yang sama tahun demi tahun, namun ada tanda yang sehat, yaitu kita mulai semakin bertanggung jawab terhadap pergumulan kita. Kita menyadari bahwa jika masalah yang sama terjadi pada orang yang sama setiap tahun, maka mungkin masalah yang sebenarnya ada di dalam setiap kita. Apa yang bisa dikatakan tentang saya ketika melihat saya tidak bisa keluar dari kesibukan? Apa yang perlu saya pelajari tentang diri saya? Janji Alkitab apa yang tidak saya percayai? Perintah Allah mana yang sedang saya abaikan sehingga sekarang harus saya taati? Perintah pribadi apa yang sedang saya taati dan sekarang harus saya abaikan? Apa yang sedang terjadi dalam jiwa saya sehingga kesibukan menjadi tantangan terbesar saya setiap tahun?
Hadirnya kesibukan yang luar biasa dalam kehidupan menunjukan adanya masalah yang lebih dalam — suatu sikap ingin menyenangkan orang lain secara berlebihan, ambisi yang tidak terpuaskan, takut akan ketiadaan makna. "Kesibukan menjadi semacam penghiburan eksistensial, pagar melawan kekosongan," tulis Tim Kreider dalam artikelnya yang populer, "The 'Busy' Trap", di New York Times. "Hidup Anda tidak akan terlihat bodoh atau remeh atau tidak bermakna jika Anda begitu sibuk, jadwal yang padat, dan diperlukan setiap jam sepanjang hari." Bahaya terbesar dari kesibukan adalah mungkin akan ada bahaya yang lebih besar yang tidak Anda sadari karena Anda tidak mempunyai waktu untuk memikirkannya.
Kesibukan tidak menjadikan Anda seorang Kristen yang berbuah atau seorang Kristen yang setia. Kesibukan menunjukkan bahwa Anda adalah seorang yang sibuk, sama seperti orang lain. Dan, seperti orang lain, sukacita, hati, dan jiwa Anda sedang ada dalam bahaya. Kita membutuhkan hikmat dari Alkitab untuk meluruskan kita. Kita membutuhkan dokter Agung yang bisa menyembuhkan jiwa kita yang terlalu sibuk.
Kevin De Young, dalam "Crazy Busy"

Comments
Post a Comment